Breaking News
Kapoldasu : Kasus Pencemaran H Irfan Tetap Diproses dan Tidak Ada Kata Damai

Kapoldasu : Kasus Pencemaran H Irfan Tetap Diproses dan Tidak Ada Kata Damai



MEDAN | DN24 - Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu), Irjen Pol Drs Agus Andrianto menegaskan, kasus pencemaran nama institusi Polri yang diduga dilakukan H Irfan tetap diproses dan tidak akan pernah ada kata damai.

"Yang dicemarkan itu adalah Polri. Polisi itu ada 450.000 lebih di seluruh Indonesia. Jadi, kita tetap proses dan kasusnya sudah pada tahap penyidikan," tegas mantan Waka Poldasu ini kepada wartawan, Rabu (20/2/19).

Menjawab wartawan terkait aksi demo di Mapolres Belawan yang menuding polisi mengkriminalisasi ulama dan meminta agar ustaz H Irfan dilepas, Kapolda menjelaskan, sekarang ini orang gemar menyeret sesuatu untuk kepentingan mereka. Bahkan, dengan gampang membawa-bawa nama ulama. Karenanya, masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya.

"Kalau mereka ulama, prilakunya dekat dengan nabi karena nabi untuk memperbaiki ahlak. Tapi, kalau mereka tidak memperbaiki ahlak, justru menciptakan permusuhan itu kontra  produktif dengan upaya menjaga persatuan dan kesatuan," ujarnya. 

Agus menghimbau agar masyarakat harus cerdas. "Saya mengucapkan terimakasih kepada warga Sumut. Saya melihat, mudah-mudahan tidak salah menilai bahwa kesadaran masyarakat yang tinggi tidak terpancing dengan upaya-upaya menggiring opini. Sumut ini milik kita bersama, mari kita jaga dan jangan karena kepentingan politik hubungan silaturahmi menjadi retak. Mari kita rapatkan barisan," ucap Kapolda.

Agus mengatakan, orang yang tidak berani menyatakan kebenaran, tidak berani melawan kejoliman atau ikut menyembunyikan kesalahan, menyembunyikan kebenaran yang harus disuarakan. 

"Arti kata dari kalimat kafir adalah orang yang suka menyembunyikan kebenaran, orang yang tidak berani menyuarakan kebenaran dari ilmu yang dia ketahui," terang Jenderal Bintang Dua Ini.

Terpisah, terkait aksi demo di Mapolres Pelabuhan Belawan yang menuntut agar H Irfan Hamidi dilepaskan karena dinilai menjadi korban kriminalisasi, Kapolres AKBP Ikhwan Lubis menegaskan, yang bersangkutan bukanlah ulama.

"Bila dia seorang ulama, sifatnya bukanlah demikian, menghina institusi Polri. Kami masih selidiki aktor intelektual di balik aksi demo itu," katanya.

Dari hasil penyelidikan, sebut Ikhwan, massa demo itu bukan warga Belawan, tapi dikerahkan dari luar Belawan. 

"Kami meminta agar masyarakat jangan terus percaya, apalagi belakangan ini acap kali terjadi membawa-bawa agama dan ulama untuk menjalankan missinya," kata Kapolres.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, kronologis dan alasan ustaz Irfan Hamidi dimintai keterangan oleh penyidik Polda Sumut, berawal pada 7 Januari 2019.

Subdit Cyber Ditreskrimsus Poldasu telah menerima pelimpahan berkas laporan polisi LP/385/XII/2018/SU/SPKT PEL BLWN tanggal 3 Desember 2018 tentang perkara penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap anggota Babinkamtibmas Polsek Belawan bernama Aiptu Budi yang dituding ikut sebagai pengedar narkoba. 

Kemudian, menuding anggota Bhabinkamtibmas tersebut sebagai perusak dan tidak ada gunanya di masyarakat, yang diduga dilakukan oleh H Irfan Hamidi. (jolly/boim)