Breaking News
Skrining dan Kenali Gejala Kanker Serviks!

Skrining dan Kenali Gejala Kanker Serviks!

MEDAN | DN24 -

Sebuah kenyataan yang pahit bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks (mulut rahim) terbanyak di dunia. Kanker yang disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus), terutama tipe 16 dan 18, biasanya tidak menunjukkan gejala atau keluhan pada tahap awal. Gejala atau keluhan tersebut biasanya baru muncul ketika kanker sudah memasuki stadium dua atau lebih.

Keputihan yang berulang meski telah diobati, juga postcoital bleeding (pendarahan pasca senggama), kerap menjadi gejala yang dirasakan—meski tidak selalu merujuk pada kanker serviks. “Meski begitu, bukan berarti kanker ini tidak bisa dihindari,” jelas dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan onkologi ginekologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Dr. dr. Fitriyadi Kusuma, Sp. OG (K) Onk.

Dia melanjutkan, penyebab dan kehadiran kanker serviks dapat dideteksi. Terlebih, kanker ini termasuk yang slow-growing. Diperlukan fase yang panjang dari tahap infeksi sampai menjadi kanker. HPV memiliki masa inkubasi selama 9-12 bulan, setelahnya, memasuki fase lesi prakanker.

Ada tiga sub pada fase ini: Atypical, Low Grade Lession, dan High Grade Lession. Jika terus berkembang, barulah menjadi kanker. Sampai pada Low Grade Lession, masih ada kemungkinan infeksi HPV menghilang meski tanpa tindakan medis,” katanya.

HPV merupakan virus yang sangat selektif, yang hanya berkembang di lingkungan yang sesuai.

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kanker serviks diantaranya menikah di usia muda (15-20 tahun), di mana pada masa ini masih terjadi perubahan sel (metaplasia) di mulut rahim, berganti-ganti pasangan seksual, infeksi gonorhea (kencing nanah), sifilis, herpes, atau HIV, mengonsumsi pil KB kombinasi dapat memicu perkembangan HPV, tapi tidak menyebabkan timbulnya HPV, dan kekurangan vitamin C, D, E, asam folat, dan mineral.

Skrining menjadi hal yang penting dilakukan untuk terhindar dari kanker serviks. Sejak aktif berhubungan seksual, pemeriksaan setiap tahun diperlukan untuk memantau kondisi organ kewanitaan. Saat ini, terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mendeteksi lesi prakanker. Seperti Tes IVA yang merupakan metode pemeriksaan yang paling mudah, murah, mampu laksana di Indonesia. Mulut rahim dibalur dengan asam cuka (25 persen) kemudian reaksi yang terjadi dianalisa.

Kemudian papsmear, tes ini dilakukan dengan pengambilan contoh sel-sel yang dilepaskan (eksfoliasi) dari lapisan epitel serviks, yang akan tampak tidak normal bila terjadi perubahan karena infeksi HPV, lesi pra kanker atau kanker, jika diperiksa di laboratorium.
 
 
Sumber : SINDOnews